Keunikan Naskah dari Kota Padi dan Kota Karst

Manuskrip dari Bantaeng dan Maros memiliki keunikan tersendiri. Salah satunya, ditulis menggunakan aksara Lontara tapi cara bacanya dari arah sebaliknya: dari kanan ke kiri seperti aksara Arab, bukan dari kiri ke kanan seperti biasanya.


Muhlis Hadrawi

SULAWESI Selatan punya dua daerah penting yang menyokong kehidupan Makassar sebagai ibukota propinsi. Kedua daerah itu adalah Bantaeng dan Maros. Tanpa melupakan kontribusi daerah-daerah lain, keduanya mendukung Makassar dari dua sektor berbeda.

Bantaeng memegang peranan sentral dalam menjaga pasokan pangan di wilayah Indonesia bagian Timur. Sawah-sawah Bantaeng telah berabad-abad memproduksi padi yang berlimpah dan berkualitas, bahkan sistem pertaniannya telah menjadi budaya yang membentuk identitas lokal. Itu sebabnya, Bantaeng berjuluk Kota Padi.

Sementara Maros, yang berjarak 150 km dari Bantaeng, terkenal dengan lanskap alamnya yang khas. Formasi gua dan sungai mengular di antara pegunungan batu yang membentang seluas puluhan ribu hektar di Maros. Dilihat dari angkasa, nampaklah pemandangan yang sungguh indah. Makassar tentu kebagian kue ekonominya karena dari situlah turis mendarat dari segala penjuru sebelum menjelajah alam Maros yang eksotik. Punya deretan bebatuan kapur berpori yang nampak unik, Maros disebut Kota Karst.

Ibarat sejoli, Bantaeng dan Maros juga menyumbang warisan budaya masa lampau berbentuk tulisan yang khas. Ya, manuskrip dari Bantaeng memiliki keunikan tersendiri, terutama dari segi bahasa dan isinya. Seperti umumnya naskah yang ditemukan di Sulawesi Selatan, manuskrip Bantaeng ditulis dengan aksara Lontara. Namun, pola baca bukan dari kiri ke kanan seperti biasanya, melainkan dari arah sebaliknya. Padahal pola baca dari kanan ke kiri pada naskah-naskah Nusantara biasanya terdapat pada tulisan beraksara Arab murni dan Arab modifikasi atau biasa disebut Serang (aksara Arab berbahasa Makassar dan Bugis). Naskah-naskah Bantaeng ditulis dalam beberapa bahasa seperti Makassar, Bugis, Belanda, dan Arab.

Manuskrip Bantaeng meliputi tema sejarah, budaya, agama, dan kearifan masyarakat lokal pada masa lampau. Narasinya berbentuk syair, hikayat, informasi historis, dan genealogi. Sementara isinya mencakup dokumen utang-piutang, surat-menyurat, catatan nasihat, dan pesan-pesan sufi. Hampir semua dituangkan pada kertas Eropa yang memiliki tanda bayangan air (watermark). Ada juga gulungan besar yang berisikan silsilah raja-raja yang berkuasa di Bantaeng.

Berbeda dengan manuskrip Bantaeng, naskah-naskah asal Maros berukuran lebih kecil. Naskahnya juga tidak banyak variasi, umumnya berisi ajaran keagamaan dan pesan spiritual yang ditulis menggunakan aksara Lontara dan Serang. Tidak seperti naskah kebanyakan yang bermedium kertas polos, catatan-catatan dari Maros ditorehkan di atas buku bergaris. Hanya ada satu naskah yang bermediakan kertas Eropa lawas dengan tampilan yang bersih dan nampak terawat secara baik.

Para pewaris naskah menganggap karya-karya tulis tersebut penting. Itu sebabnya, mereka menyimpannya sebaik mungkin secara turun-temurun. Keluarga dan komunitas peminat naskah di kedua daerah itu memiliki kesadaran untuk merawat naskah dari generasi ke generasi dan disebar ke sejumlah kerabat. Ini artinya mereka bukan sekadar menyimpan, melainkan melestarikan budayanya. Sebut misal, Imran Massoewalle, yang semenjak remaja telah aktif menulis naskah sebagaimana manuskrip yang diwariskan keluarganya. Tradisi ini dipertahankan karena sang ayah, Karaeng Andi Massoewalle, adalah penerus tahta Kerajaan Bantaeng yang menjabat sejak 1952.

Sebagai catatan, Kerajaan Bantaeng berdiri sejak tahun 1253 M dan bertahan sebagai pemerintahan kesultanan hingga abad ke-17 di Semenanjung Sulawesi Selatan. Pasca Karaeng Massoewalle, kepemimpinan adat Bantaeng dijabat oleh Nurdin Abdullah, namun ia dicopot sebagai sultan pada November 2021 karena terjerat kasus korupsi.

Kembali ke manuskrip Bantaeng, terdapat tiga tokoh berpengaruh dalam pewarisan naskah dan tradisinya. Mereka adalah Karang Dole, Muhammad Syaggaf atau populer dengan nama Andi Nocci, dan Andi Massoewalle. “Mereka pernah menjabat sebagai sultan di Bantaeng,” kata Imran Massoewalle, si pemilik naskah, tentang para leluhurnya.

Di Maros, manuskrip lokal dikoleksi oleh Abdul Samad, seorang buruh tani di Desa Balombong, Kecamatan Lau. Ia mewarisi naskah Maros dari kakek buyutnya, Haji Daud yang menjadi imam pertama di Kampung Saja. Namun, Samad mengaku hanya menyimpan sebagian naskah, sebagian lagi disimpan sanak saudaranya dari garis keturunan berbeda yang bermukim di daerah lain.

Samad tak tahu bagaimana nasib naskah-naskah di luar kuasanya. “Setahu saya, tidak pernah sekalipun naskah itu mendapat perhatian untuk disalin ulang,” katanya sambil menggelengkan kepala.

Samad tidak memiliki keahlian menulis ulang manuskrip dengan tangan sendiri. Tapi ia tak kurang akal, setidaknya untuk menyelamatkan isinya, yakni menyalinnya melalui mesin fotokopi dan membersihkan bercak-bercak yang berpotensi menutupi teks.

Senin, 13 Maret 2022, tim DREAMSEA mendigitalkan manuskrip Bantaeng dan Maros selama sepekan. Setiap hari kegiatan dimulai dengan passili, semacam upacara adat sebagai syarat sebelum membuka manuskrip. Setelah itu naskah dibongkar dari tempat penyimpanannya untuk dibersihkan dan diinventarisasi sebelum dipotret dengan kamera khusus.

Di tengah pemotretan naskah di Bantaeng, kediaman tuan rumah Karaeng Imran Massoawale didatangi sejumlah orang. Rupanya mereka adalah para tokoh masyarakat setempat yang berencana urun rembuk soal pembentukan adat 12 Bantaeng untuk merencanakan pelantikan Raja Bantaeng yang baru. Rapat berlangsung lancar tanpa mengganggu proses pemotretan. Gangguan justru datang dari hal teknis: listrik padam gegara korsleting akibat lampu pencahayaan kamera terlalu panas.

Pada hari terakhir, tim berhasil mendigitalkan 40 bundel naskah dengan enam bundel di antaranya berupa fotokopi. Total file yang dihasilkan dari proses ini adalah 1.691 gambar. Koleksi digital manuskrip ini dapat dilihat di repository DREAMSEA, tersedia bagi siapa saja yang meminati gambaran kehidupan masyarakat Bugis pada masa lampau.***

Translate »