Naskah Bilapora di Gerbung Madura

Dari sebuah postingan di Facebook, terungkap keberadaan naskah-naskah kuno di Bilapora, Sumenep Madura, Jawa Timur. Disimpan di 'gerbung' yang diwariskan turun-temurun, banyak manuskrip yang rusak parah. DREAMSEA mendigitalkan sisanya.


Agus Iswanto, Mashuri & Alfan Firmanto

RAEDU Basha, pengasuh Pesantren Darussalam di Desa Bilapora Timur, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, memposting status di akun Facebook-nya pada pertengahan tahun 2020. Ia menunjukkan tempat penyimpanan naskah-naskah kuno warisan dari kakek-buyutnya. Tempat itu dikenal dengan istilah 'gerbung', sebuah peti tua dari kayu untuk menyimpan benda pusaka atau barang berharga. Lokasinya berada di rumah induk keluarganya.

Raedu Basha bernama asli Badrus Shaleh. Sering juga disapa Lora Badrus. Di Madura, istilah "lora" biasa digunakan untuk menyebut putra kiai yang disegani. Kakek-buyut Raedu adalah Agung Darma, anak dari Agung Sumi, seorang keturunan Sunan Giri--salah satu Walisongo penyebar agama Islam di Jawa. Agung Darma yang punya nama lain Agung Abdillah dimakamkan di desa lain tak jauh dari rumah keluarga. Bilapora sendiri merupakan sebuah desa besar yang melintasi dua kecamatan: Bilapora Reba di wilayah Lenteng dan Bilapora Timur yang masuk Kecamatan Ganding.

Menurut Raedu, di rumah berukuran sedang yang berusia tua itu terdapat banyak naskah kuno. Sayangnya, ia kesulitan merincinya karena manuskrip itu disimpan begitu saja tanpa perawatan khusus. Belum ada pula yang mengkaji isinya satu per satu. Kondisi ini seperti naskah-naskah kuno yang berada di langgar atau musala di Madura yang rusak parah bahkan raib tak tentu rimbanya.

Ditemui pada 30 Oktober 2021, Raedu mengungkapkan, Agung Darma mewariskan langgar, rumah tanean lanjeng, cerita mitos dari mulut ke mulut, dan naskah kuno. Namun sejauh ini warisan itu hanya dijaga apa adanya. "Dari dulu naskah hanya disimpan dalam gerbung yang ada di rumah induk," katanya sambil menjelaskan situasi lingkungan di desanya.

Benar saja. Masuk ke rumah induk, nampaklah gerbung yang lembab dan hampir menempel di dinding. Ketika tempat penyimpanan naskah itu dibuka, pemandangannya pun bikin miris. Naskah-naskah berserakan campur aduk dengan kitab kuning, buku cetak, dan barang lainnya. Sekilas terlihat bahwa manuskrip yang disimpan dalam peti tua itu berjumlah lebih dari 50 item. Sayangnya, belum banyak tindakan yang dapat dilakukan pada pertemuan pertama ini. Sebatas urun saran agar menggeser peti ke tempat yang lebih segar dan terang.

Sibuk mengurus pesantren, baru dua tahun kemudian keluarga besar Agung Darma bermufakat untuk menyelamatkan peninggalan manuskrip yang berharga itu. Perwakilan keluarga menyetujui program digitalisasi terhadap manuskrip yang dikoleksinya. Pertengahan Agustus 2023, tim DREAMSEA menginap selama hampir sepekan di Bilapora untuk memproses peralihan naskah dari media kertas menjadi file digital.

Naksah Al-Qur'an dari Madura

Hari pertama, tim datang sore hari. Namun, gerbung baru dapat dibuka selepas shalat Isya karena menunggu pembawa kuncinya pulang dari pengajian. Malam itu tim memilih rehat dulu, menginap di rumah Haji Djumali, kerabat Lora Badrus yang berlokasi tak jauh dari rumah tempat penyimpanan naskah. Haji Djumali setia menemani tim untuk bekerja dan tak ragu memberikan penjelasan atau menjawab pertanyaan.

Hari kedua, aktivitas dimulai sebelum matahari terbit. Selepas shalat Subuh, tim berziarah ke makam Agung Darma memenuhi permintaan tuan rumah. Seiring sinar mentari yang mulai terang, tim memindahkan naskah dari peti ke tempat kerja yang berada di bagian depan rumah. Selanjutnya, naskah dibersihkan dan dipilah-dipilah untuk dimasukkan ke map plastik mika. Tim kemudian melakukan identifikasi awal.

Hari ketiga merupakan puncak kegiatan. Digitalisasi dilakukan seharian penuh. Manuskrip yang teridentifikasi kemudian dipotret dengan kamera khusus. Tim bekerja keras hingga dini hari. Pekerjaan yang belum kelar dilanjutkan esok harinya. Proses ini meliputi identifikasi ulang untuk pembuatan metadata, perekaman gambar, dan sinkronisasi data. Tepat hari kelima, digitalisasi selesai.

Terdapat 36 naskah yang berhasil dialihmediakan. Angka ini adalah separo dari sebanyak 60-an naskah di dalam peti. Sebagian besar naskah-naskah itu rusak: lengket karena agak basah dan penuh ngengat. Ada juga yang halamannya terpangkas hingga sepertiga halaman, nampaknya bekas gigitan tikus. Beberapa halaman hilang sehingga isinya tidak lagi utuh.

Kondisi naskah rusak, halaman terlepas dan berlubang

Naskah-naskah yang rusak itu tak bisa didigitalkan. Sementara naskah yang berhasil diselamatkan berupa mushaf Al-Quran, kitab keagamaan, primbon, kumpulan catatan, dan surat-surat. Beberapa di antaranya merupakan naskah yang kompleks, yaitu satu bundel naskah terdiri atas beberapa teks. Aksara yang digunakan dalam naskah meliputi Arab, Jawa/carakan Madura, dan Pegon (Pegu: dalam bahasa Madura). Adapun bahasa yang digunakan adalah Arab, Melayu, Jawa, dan Madura.

Terdapat beberapa kekhasan dari Koleksi Agung Darma. Misalnya, cukup banyak naskah majemuk. Selain itu, ada ruang kosong di tiap naskah untuk menuliskan catatan terutama doa-doa. Surat-surat ditulis dalam bahasa Madura. Sedangkan alas naskah umumnya terbuat dari daluang.

Naskah peninggalan Agung Darma sebenarnya berjumlah lebih banyak dari yang didapati di gerbung. Namun, keberadaan naskah lainnya belum terlacak secara baik. "Ada banyak naskah yang dibawa anggota keluarga lainnya, masih tersebar di mana-mana ke wilayah lain," ungkap Haji Djumali.

Kegagalan upaya digitalisasi terhadap seluruh naskah Agung Darma merupakan sinyal merah bahwa naskah-naskah sejenis dalam kondisi kritis di Madura yang berhawa pengap karena kondisi geografisnya. Untungnya, pewaris segera menyadari bahwa menyelamatkan manuskrip sama halnya menjaga warisan keluarga. Meskipun terlambat, digitalisasi setidaknya telah menyelamatkan warisan yang tersisa. Hal ini memungkinkan naskah tersebut untuk dikaji lebih lanjut.

Ini mengingatkan pada cerita pada 2010 ketika seorang keluarga pesantren di Pamekasan, Madura berkunjung ke rekannya di Yogyakarta. Ia terhenyak ketika melihat rekannya itu nampak semringah saat mendapatkan sebuah naskah kuno warisan keluarga. Ia pun langsung teringat warisan serupa yang menumpuk di gudang rumah familinya di kompleks pesantren. Segera saja dia balik kanan.

Sampai di kampung halaman, ia masih mendapati banyak naskah kuno yang tersimpan di gudang. Sayangnya, hanya sebagian naskah yang berhasil diselamatkan. Beberapa naskah terhitung dokumen langka dan pennting, misalnya, catatan silsilah keluarga. "Banyak yang hancur, terutama dari bahan daluang dan lontar. Ada yang kena air, dimakan ngengat, rayap, tikus. Jumlahnya ratusan. Akhirnya yang rusak parah itu dibakar dan selebihnya dirawat," ujar pria yang enggan disebut identitasnya itu.

Kesadaran yang terlambat merupakan fenomena umum terkait nasib naskah-naskah di Nusantara. Sudah lama peneliti-peneliti mengingatkan betapa banyak dokumen kuno yang punah karena ketidakpastian dalam penyimpanan dan pelestariannya. Salah satunya, Louis-Charles Damais, peneliti asal Prancis yang menulis "Presence du Bouddhisme: Le Bouddhisme en Indonesia" dalam France-Asia yang terbit pada 1959. Setelah berpuluh tahun mengendap, pada 1995 École française d'Extrême-Orient atau biasa disingkat EFEO yang berkantor di Jakarta, menerjemahkannya dalam bahasa Indonesia dengan judul buku Epigrafi dan Sejarah Nusantara. EFEO terjemahan bebasnya adalah Sekolah Prancis untuk Timur Jauh, sebuah lembaga penelitian yang konsen meneliti kebudayaan di Asia.

Dalam tulisan tersebut, Damais mengatakan, "Kasus Nagarakertagama mengingatkan kita pada ketidakpastian dalam pelestarian dokumen-dokumen kuno dan unsur kebetulan dalam penyimpanannya." Damais mencontohkan bagaimana Nagarakertagama sebagai dokumen kuno penting pada masa Kerajaan Majapahit terselamatkan dengan adanya unsur 'kebetulan'.

Dikisahkan, pada 1894, saat ekspedisi Belanda melawan Tjakranegara di Lombok, semua barang yang merupakan bahan bakar ditumpuk dalam sebuah gudang. Brandes mendengar bahwa di antara bahan bakar itu terdapat naskah-naskah lontar. Ia berhasil menyelamatkannya dan menemukan di antaranya naskah Nagarakertagama. Secepat mungkin ia menggandakannya dalam aksara Bali pada tahun 1902.

"Seandainya naskah itu terlanjur dipakai untuk menyalakan api unggun atau api dapur, sebagaimana maksud semula, maka kita telah kehilangan salah satu dokumen yang sangat berharga untuk merekonstruksi sejarah lama Jawa dan dengan sendirinya orang bahkan tidak akan menduga bahwa naskah itu pernah ada," kata Damais.

Kembali ke Madura, adakah naskah-naskah lain yang perlu segera diselamatkan? ***

Translate »